AQIDAH ISLAM

AQIDAH ISLAM

 

 

A.    PENGERTIAN AQIDAH

Secara etimologis (lughatan), aqidah berakar dari kata “aqada-ya’qidu-‘aqdan-‘aqidatan”. Aqdan berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Setelah terbentuk menjadi ‘aqidah berarti keyakinan.1 Relevansi antara arti kata ‘aqdan dan ‘aqidah adalah ‘aqidah berarti keyakinan itu antara tersimpul dengan kokoh di dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian.

Secara terminomologis (ishthilahan), terdapat beberapa definisi (ta’rif) antara lain:

  1. Menurut Hasan- al Banna:

Aqa’id (bentuk jamak dari aqidah) adalah beberapa perkara yang wajib kebenarannya oleh hati(mu), mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikit pun dengan karagu-raguan.2

  1. Menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy:

Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (axioma) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. (Kebenaran) itu dipatrikan (oleh manusia) di dalam hati (serta) diyakini kesahihan dan keberadaannya (secara pasti) dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.3

Untuk lebih memahami kedua definisi di atas kita perlu mengemukakan beberapa catatan tambahan sebagai berikut:

  1. Ilmu terbagai dua: pertama ilmu dharuri, kedua umum nazhari. Ilmu yang dihasilkan oleh indera, dan tidak memerlukan dalil disebut dharuri. Misalnya apabila Anda melihat tali di hadapan mata, Anda tidak memerlukan lagi dalil atau bukti bahwa benda ini ada. Sedangkan ilmu yang memerlukan dalil atau pembuktian disebut ilmu nazhari. Di antara ilmu nashari itu, ada hal-hal yang karena sudah sangat umum dan terkenal tidak memerlukan lagi dalil, misalnya sebagian lebih sedikit dari seluruh.
  2. Setiap manusia memiliki fitrah mengakui kebenaran (bertuhan), indera untuk mencari kebenaran, akal untuk menguji kebenaran dan memerlukan wahyu yang menjadi pedoman menemukan mana yang benar dan mana yang tidak. Tentang Tuhan, misalnya, setiap manusia memiliki fithrah bertuhan, dengan indra dan akal dia bisa membuktikan adanya Tuhan, tetapi hanya wahyulah yang menunjukkan kepadanya siapa Tuhan yang sebenarnya.
  3. Keyakinan tidak boleh bercampur sedikit pun dengan keraguan. Sebelum seseorang sampai ke tingkat yakin (ilmu) dia akan mengalami lebih dahulu pertama: syak, yaitu sama kuat antara membenarkan sesuatu atau menolaknya. Kedua: zhan: salah satu lebih kuat sedikit dari yang lainnya karena ada dalil yang menguatkannya. Ketiga: ghalabatnz zhan: cenderung lebih menguatkan salah satu karena sudah meyakini dalil kebenarannya. Keyakinan yang sudah sampai ke tingkat ilmu inilah yang disebut dengan aqidah.
  4. Aqidah harus mendatangkan ketentraman jiwa. Artinya lahirnya seseorang bisa saja pura-pura meyakini sesuatu, akan tetapi hal itu tidak akan mendatangkan ketenangan jiwa, karena dia harus melaksanakan sesuatu yang berlawanan dengan keyakinannya.
  5. Bila seseorang sudah meyakini suatu kebenaran, dia harus menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.

B.     BEBERAPA ISTILAH LAIN TENTANG AQIDAH

Ada beberapa istilah lain atau hampir semakna dengan istilah aqidah yaitu: iman dan tauhid dan yang semakna dengan ilmu aqidah yaitu Ushuluddin, Ilmu Kalam dan Fikih Akbar.

Dibawah ini, penulis kemukakan beberapa catatan sekitar istilah-istilah diatas.

1.      Iman

Ada yang menyamakan istilah iman dengan aqidah, dan ada yang membedakannya. Bagi yang membedakan, aqidah hanyalah bagian dalam (aspek hati) dari iman, sebab iman menyangkut aspek dalam dan aspek luar. Aspek dalamnya berupa keyakinan dan aspek luar berupa pengakuan lisan dan pembuktian dengan amal. Sebenarnya masalahnya tergantung dari definisi iman. Kalau kita mengikuti definisi iman menurut Jahmiah dan Asy’ariyah yang mengatakan bahwa iman hanyalah at-tashdiq (membenarkan di dalam hati) maka iman dan aqidah adalah dua istilah yang bersinonim. Senada dengan ini pendapat Imam Abu Hanifah yang mengatakan bahwa iman hanyalah ‘itiqad, sedangkan amal adalah bukti iman, tetapi tidak dinamakan iman. Sebaliknya jika kita mengikuti definisi iman menurut Ulama Salaf (termasuk Imam Ahmad, Malik dan Syafi’i) yang mengatakan bahwa iman adalah:

“Sesuatu yang diyakini di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota tubuh”.

(Lihat al-‘Aqidah fillah oleh Sulaiman Al-Asykar, hal. 14), maka iman dan aqidah tentu tidak sama persis.

Menurut hemat penulis apabila istilah iman berdiri sendiri maka yang dimaksud adalah iman yang mencakup dimensi hati, lisan dan amal, seperti yang dinyatakan oleh Allah SWT dalam surat Al-Mukminun ayat 1-11. Namun bila istilah iman dirangkaikan dengan amal shaleh seperti dalam surat Al-‘Ashri ayat 3, maka iman berarti ‘itqad atau aqidah.

2.      Tauhid

Tauhid artinya mengesakan (mengesakan Allah-Tauhidullah). Ajaran tauhid adalah tema sentral aqidah dan iman, oleh sebab itu aqidah dan iman diidentikkan juga dengan istilah tauhid.

3.      Ushuluddin

Artinya pokok-pokok agama. Aqidah, iman dan tauhid disebut juga ushuluddin karena ajaran aqidah merupakan pokok-pokok ajaran agama Islam.

4.      Kalam

Kalam artinya berbicara, atau pembicaraan. Dinamai dengan Ilmu Kalam karena banyak dan luasnya dialog dan perdebatan yang terjadi antara pemikir masalah-masalah aqidah tentang beberapa hal. Misalnya tentang Al-Qur’an apakah Khaliq atau bukan, hadits atau qadim. Tentang taqdir, apakah manusia punya hak ikhtiar atau tidak. Tentang orang yang berdosa besar, kafir atau tidak, dan lain sebagainya. Pembicaraan dan perdebatan luas seperti itu terjadi setelah cara berpikir rasional dan filsafati mempengaruhi para pemikir dan ulama Islam.

5.      Fikih Akbar

Artinya fikih besar istilah ini muncul berdasarkan pemahaman bahwa tafaqquh fiddin yang diperintahkan Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 122, bukan hanya masalah fikih tentu, dan lebih utama masalah aqidah. Untuk membedakan dengan fikih dalam masalah hukum ditambah dengan kata akbar, sehingga menjadi fikih akbar.

C.    RUANG LINGKUP PEMBAHASAN AQIDAH

Meminjam sistematika Hasan al-Banna maka ruang lingkup pembahasan aqidah adalah:

1.      Ilahiyat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Ilah (Tuhan, Allah) seperti wujud Allah, nama-nama dan sifat-sifat Allah, af’al Allah dan lain-lain.

2.      Nubuwat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul, termasuk pembahasan tentang kitab-kitab Allah, mu’jizat, keramat dan lain sebagainya.

3.      Ruhaniyat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti malaikat, jin, iblis, syaitan, roh dan lain sebagainya.

4.      Sam’iyyat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sem’i (dalil naqli berupa Al-Qur’an dan Sunnah) seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur tanda-tanda kiamat, surga neraka dan lain sebagainya.

Disamping sistematika di atas, pembahasan aqidah bisa juga mengikuti sistematika arkanul iman, yaitu:

1)   Iman kepada Allah SWT.

2)   Iman kepada malaikat (termasuk pembahasan tentang makhluk rohani lainnya seperti jin, iblis dan syaitan).

3)   Iman kepada kitab-kitab Allah.

4)   Iman kepada nabi dan rasul.

5)   Iman kepada hari akhir.

6)   Iman kepada taqdir Allah.

Penulis akan mengikuti sistematika arkanul iman.

Pokok dari segala pokok keimanan adalah beriman kepada Allah yang terpusat pada pengakuan terhadap eksistensi dan kemahaesaan-Nya. Keimanan kepada Allah menduduki peringkat pertama, dan dari situ akan lahir keimanan kepada rukun iman yang lainnya. Sepanjang seseorang telah beriman kepada Allah, niscaya ia akan beriman kepada para malaikat, kitab, suci, para rasul, hari kiamat, serta ketentuan baik dan buruk. Kesemuanya itu  merupakan cabang dari keimanan kepada Allah SWT ini.

Seorang mukmin harus mengimani satu Tuhan yaitu Allah SWT, bukan yang lain, sekalipun Tuhannya itu Esa. Karena penamaan Allah untuk Tuhan Yang Maha Esa, haruslah datang dari Allah sendiri dan tidak dibenarkan bila ditetapkan oleh manusia sendiri.

Jadi, memberikan nama kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan nama-nama lain selain yang telah ditetapkan sendiri oleh Allah SWT, tidak dibenarkan bagi orang muslim. Karena Allah-lah yang Maha Tahu tentang nama yang menunjukkan Dzat-Nya. Dan nama-nama itu tidaklah diperoleh melainkan dari Allah sendiri dengan perantaraan Al-Qur’an. Ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah itu Maha Kuasa, Maha Esa, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Perkasa, dan sifat Allah lainnya, secara implisit jelas menunjukkan bahwa Allah itu eksis (ada). Sebab tidak mungkin Allah menyatakan diri-Nya sebagai Maha Mendengar dan Maha Melihat kalau Dia tidak ada.

Adapun pembuktian adanya Allah dengan dalil aqli (rasional) terbagi dalam beberapa dalil. Pertama, dalil kosmolofis yaitu pembuktian yang paling tua dan sederhana tentang eksistensi Allah. Intinya adalah bahwa segala sesuatu yang ada (wujud) pasti ada yang menciptakan, sebab seluruh kejadian dan perwujudan di alam semesta ini, selamanya bergantung pada perwujudan yang lain. Tidak mungkin sesuatu yang ada tanpa adanya yang lain, termasuk peristiwa yang muncul di dalamnya. Lahirnya rangkaian kejadian dan gerakan peristiwa disebabkan adanya penyebab pertama dan penggerak pertama, yang lebih dikenal dengan istilah Prima Causa atau Asbabul Asba.

Jika rangkaian sebab-akibat gerakan tersebut terus diperturutkan, niscaya terjadi daur (lingkaran yang tidak berujung tidak pangkal) atau tasalsul (rangkaian gerak yang tidak berawal tidak berakhir). Secara logika, daur atau tasalsul tidak mungkin bisa diterima akal. Apabila demikian, maka harus dikatakan bahwa Prima Causa tersebut merupakan penggerak yang tidak digerakkan dan penyebab yang tidak diawali oleh sebab yang lain. Prima Causa tersebut tak lain adalah Allah SWT.

Kedua, dalil teleologis. Inti dari dalil ini adalah bahwa segala perwujudan di alam raya ini tersusun dalam sistem yang amat teratur, dan setiap benda yang ada di alam semesta ini memiliki tujuan-tujuan tertentu. Keteraturan sistem alam yang demikian rapi, tidak bisa tidak, harus ada yang mengatur. Sumber keteraturan itu adalah Allah SWT.

Ketiga, dalil ontologis. Inti dalil ini adalah bahwa manusia memiliki konsep tentang sesuatu yang sempurna. Dan bila manusia berpikir tentang sesuatu yang sempurna, niscaya berpikir pula tentang adanya sesuatu yang lain yang lebih sempurna. Hal ini akan mengantarkan pada adanya Dzat Yang Maha Sempurna, yang tiada kesempurnaan selain Dia. Ide atau konsep tentang Dzat Yang Maha Sempurna itu pasti diciptakan oleh Allah SWT, pada diri manusia yang tidak sempurna tersebut.

Keempat, dalil moral. Inti dalil ini adalah bahwa di kalangan umat manusia di dunia berlaku nilai-nilai moral seperti kebenaran, kejujuran, keadilan, dan kebahagiaan. Pengalaman sejarah umat manusia mencatat banyak sekali orang yang membela suatu prinsip kebenaran dan keadilan yang diyakininya benar meski harus bertentangan dengan pandangan orang banyak. Padahal untuk memperjuangkannya, mereka harus berkorban, baik jiwa, raga maupun hartanya. Selain itu perjuangan dan pengorbanan mereka tak urung mendapat pertentangan, cacian, hinaan bahkan melanggarnya.

Pasti ada satu Dzat Yang Maha Tinggi kepada siapa mereka merasa bertanggung jawab, menggantungkan asa dan mengharap kebahagiaan kelak di akhirat. Dan Dzat Yang Maha Tinggi itu adalah Allah SWT.

Selanjutnya keimanan terhadap eksistensi para malaikat, secara naqli didasarkan pada firman Allah yang berbunyi:

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya”. (Qs. Al-Baraqat, 2: 285).

Karena eksistensi malaikat merupakan sesuatu yang gaib (tidak kasat mata), keimanan kepada malaikat mencakup keimanan kepada hal-hal lain yang bersifat ghaib pula. Keimanan kepada malaikat lebih bercorak dogmatis, artinya kita yakini berdasarkan firman Allah yang ada di dalam Al Qur’an (dalil naqli), dan sulit dibuktikan melalui rasio (dalil naqli) atau pembuktian secara empiris. Yang jelas, Allah SWT menyebutkan para malaikat itu adalah:

  1. Hamba-hamba Allah yang taat kepada segala yang diperintahkan-Nya tanpa membantah sedikitpun.4
  2. Para malaikat memiliki tugas yang bermacam-macam: ada yang menurunkan wahyu, mencatat amal perbuatan umat manusia, mematikan (mencabut) nyawa makhluk Allah, dan lain-lain.5
  3. Dalam menunaikan tugasnya, para malaikat tidak memiliki ambisi pribadi, sangat taat, suci, bersih, dan dianugerahi kekuatan sedemikian rupa sehingga disamping tidak akan memiliki keinginan untuk merubah atau menyelewengkan tugas yang dipercayakan melaksanakan tugasnya.
  4. Para malaikat hanyalah hamba-hamba Allah dan sama sekali bukan putra-putra-Nya yang harus disembah seperti yang dilakukan oleh penganut sementara agama non-Islam.6

Pokok atau rukun iman berikutnya dalam Islam adalah beriman kepada kitab-kitab Allah. Keimanan terhadap kitab-kitab Allah, ini sebagaimana halnya dengan keimanan kepada Allah, para malaikat serta para Rasul. Sebab dengan mempercayai Allah sebagai Tuhan ada kemestian untuk menaati perintah dan larangan-Nya yang ada dalam kitab suci-Nya. Beriman kepada kitab suci-Nya mengharuskan pula beriman kepada para malaikat yang menurunkannya kepada para rasul. Beriman kepada para malaikat dan kitab, jelas mengharuskan agar percaya akan adanya para rasul Allah.

Selanjutnya mengimani hari akhirat yang merupakan sistem kehidupan dimana keadilan hakiki akan ditegakkan. Pelaku kejahatan dan pelaku kebaikan akan memperoleh imbalan tanpa dirugikan barang sedikit pun.

Terakhir, dengan memahami dan mengimani takdir dalam bentuknya yang tepat, manusia akan terhindar dari sikap fatalis (orang yang percaya atau menyerah saja kepada nasib) yang akan menjerumuskannya pada bencana dan kesengsaraan. Oleh karena itu, setiap muslim harus beribadah, bertindak, berjuang dan berusaha dengan berpijak pada sunnah yang telah ditetapkan Allah. Tanpa kerja keras dan berpijak pada sunatullah, perjuangan tidak mungkin bisa dimenangkan, cita-cita pun tidak mungkin dapat tercapai.

D.    SUMBER AQIDAH ISLAM

Sumber aqidah Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Artinya apa saja yang disampaikan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan oleh Rasulullah dalam Sunnahnya wajib diimani (diyakini dan diamalkan).

Akal pikiran tidaklah menjadi sumber aqidah, tetapi hanya berfungsi memahami nash-nash yang terdapat dalam kedua sumber tersebut dan mencoba  ­­-kalau diperlukan- membuktikan secara ilmiah kebenaran yang disampaikan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Hal itu pun harus didasari oleh suatu kesadaran bahwa kemampuan akal sangat terbatas, sesuai dengan terbatasnya kemampuan semua makhluk Allah. Akal tidak akan mampu menjangkau masail ghaibiyah (masalah ghaib), bahkan tidak akan mampu menjangkau sesuatu yang tidak terikat dengan ruang dan waktu. Misalnya akal tidak akan mampu menjawab pertanyaan kekal itu sampai kapan? Atau akal tidak akan mampu menunjukkan tempat yang tidak ada di darat, di udara, di lautan dan tidak ada di mana-mana. Karena kedua hal tersebut tidak terikat dengan waktu dan ruang. Oleh sebab itu, akal tidak boleh dipaksa memahami hal-hal ghaib itu. Akal hanya perlu membuktikan jujurkah atau bisakah kejujuran si pembawa berita tentang hal-hal ghaib tersebut dibuktikan secara ilmiah oleh akal pikiran?

E.     BEBERAPA KAIDAH AQIDAH

1.      Apa yang saya dapat dengan indera saya, saya yakini adanya, kecuali bila akal saya mengatakan “tidak” berdasarkan pengalaman masa lalu.

Misalnya, bila saya pertama kali melihat sepotong kayu di dalam gelas berisi air putih kelihatan bengkok, atau melihat tiang-tiang listrik bergerak dilihat dari jendela kereta api yang sedang berjalan, atau melihat fatamorgana, tentu saya akan membenarkannya. Tapi apabila terbukti kemudian hasil pengamatan indra saya itu salah, maka untuk kedua kalinya apabila saya melihat hal yang sama, akal saya langsung mengatakan tidak demikian hal yang sebenarnya.

2.      Keyakinan, disamping diperoleh dengan menyaksikan langsung, juga bisa melalui berita yang diyakini kejujuran si pembawa berita.

Banyak hal yang memang tidak atau belum kita saksikan sendiri tapi kita menyakini adanya. Misalnya Anda belum pernah ke India, Brazil atau ke Mesir, tapi Anda menyakini negeri-negeri tersebut ada. Atau tentang fakta sejarah, tentang Daulah Abbasiyah, Umaiyah, tentang kerajaan Majapahit, tentang Iskandar Zulkarnain dan lain-lain. Anda meyakini kenyataan sejarah itu berdasarkan berita yang Anda terima dari sumber yang dipercaya. Bahkan, kalau seseorang memperhatikan apa yang diyakini adanya, ternyata yang belum disaksikannya lebih banyak dari yang sudah disaksikannya.

3.      Anda tidak berhak memungkiri wujudnya sesuatu, hanya karena Anda tidak bisa menjangkaunya dengan indra mata.

Kemampuan alas indra memang sangat terbatas. Telinga tidak bisa mendengar suara semut dari jarak dekat sekalipun, mata tidak bisa menyaksikan semut dari jarak jauh. Di sebuah ruangan yang sepi dan sunyi Anda tidak bisa mendengar apa-apa, padahal di udara dalam ruangan ini ada bermacam suara dari bermacam-macam pemancar radio. Oleh sebab itu, seseorang tidak bisa memungkiri wujudnya sesuatu hanya karena indranya tidak bisa menyaksikannya.

4.      Seseorang hanya bisa mengkhayalkan sesuatu yang sudah pernah dijangkau oleh indranya.

Khayalan manusia pun terbatas. Anda tidak akan bisa mengkhayalkan sesuatu yang baru lama sekali. Waktu Anda mengkhayalkan kecantikan seseorang secara fiktif, Anda akan menggabungkan unsur-unsur kecantikan dari banyak orang yang sudah pernah Anda saksikan. Begitu juga seorang arsitek, saat merancang sebuah gedung yang paling indah, hanya menggabungkan unsur keindahan yang pernah dia lihat dari beberapa gedung lainnya. Khayalan memang sangat terbatas. Terikat dengan hukum-hukum tertentu. Anda tidak akan bisa mengkhayalkan suara yang nadanya harum, atau parfum yang baunya terangsang, karena suara, bau dan warna terikat dengan hukum masing-masing.

5.      Akal hanya bisa menjangkau hal-hal yang terikat dengan ruang dan waktu.

Tatkala mata mengatakan bahwa tiang-tiang listrik berjalan waktu kita menyaksikannya lewat jendela kereta api akal dengan cepat mengoreksinya. Tapi apakah akal bisa memahami dan menjangkau segala sesuatu? Tidak. Karena kemampuan akal pun terbatas. Akal tidak bisa menjangkau sesuatu yang tidak rumit dengan ruang dan waktu. Bisakah Anda menunjukkan tempat sebuah negeri kalau negeri yang itu tidak ada di daratan, di lautan, di udara dan tidak ada dimana-mana.

Bisakah akal Anda menjelaskan kapan terjadi sesuatu peristiwa, kalau peristiwa itu tidak terjadi dulu, sekarang dan tidak juga pada masa yang akan datang?

6.      Iman adalah fitrah setiap manusia.

Setiap manusia memiliki fitrah mengimani adanya Tuhan. Pada saat seorang-termasuk yang mengaku tidak bertuhan – kehilangan harapan ingin hidup, padahal dia masih ingin hidup, fitrahnya akan menuntun dia untuk meminta kepada Tuhan. Bila Anda masuk hutan dan terperosok ke dalam lubang, pada saat Anda kehilangan harapan untuk bisa keluar dari lubang itu, Anda akan berbisik. Oh Tuhan! Sekalipun sebelumnya Anda tidak pernah menyebut nama Tuhan. Tapi fitrah itu hanya potensi dasar yang perlu dikembangkan dan dipelihara, karena fitrah bisa tertutup oleh bermacam-macam hal.

7.      Kepuasan material di dunia sangat terbatas.

Manusia tidak akan puas dengan material. Seorang yang belum punya sepeda ingin punya sepeda. Setelah punya sepeda, ingin punya motor dan seterusnya sampai mobil, pesawat dan lain-lain. Bila keinginannya tercapai dan berubah menjadi sesuatu yang “biasa”, maka dia tidak lagi merasakan kepuasan. Dia akan selalu ingin lebih dari apa yang didapatnya secara material. Oleh sebab itu, manusia memerlukan alam lain sesudah dunia ini untuk mendapatkan kepuasan yang hakiki.

8.      Keyakinan tentang hari akhir adalah konsekuensi logis dari keyakinan tentang adanya Allah.

Jika Anda beriman dengan Allah, tentu Anda beriman dengan sifat-sifat Allah, termasuk sifat “adil”. Kalau tidak ada kehidupan lain di akhirat, bisakah keadilan Allah itu terlaksana? Bukankah tidak semua penjahat menanggung akibat semua kejahatannya tersebut? Bukankah tidak semua orang yang berbuat baik merasakan hasil kebaikannya itu? Bila Anda menonton film, bila ceritanya belum selesai sudah dituliskan di layar “Tamat”, bagaimana komentar Anda? Oleh sebab itu, iman Anda dengan Allah menyebabkan Anda beriman dengan adanya alam lain sesudah alam dunia ini yaitu hari akhir.

F.     TINGKATAN AQIDAH

Apabila seseorang ragu akan keagungan Allah, minim lebih yakin pada kemampuan dirinya dengan penolongan makhluk, maka jangan salahkan siapa pun kalau dalam hidupnya ia akan menemukan banyak kekecewaan.

Barang siapa ingin hidupnya selalu dilindungi, dibela, dimudahkan urusannya oleh Allah dikabulkan do’a-do’anya, tetapi tidak pernah bersungguh-sungguh untuk meningkatkan mutu aqidah (keyakinannya) kepada Allah, maka keinginannya punya akan menjadi sebuah angan-angan.  Apalagi bila tanpa usaha nyata untuk mewujudkannya. Ketahuilah, hanya Allah-lah yang seharusnya cukup menjadi penolong baginya, yang menjamin segala urusannya. Tidak ada satu pun penghalang jaminan Allah, kecuali buruk sangka dari makhluk itu sendiri.

Aqidah atau keimanan yang dimiliki seseorang itu tidak selalu sama dengan orang lain. Ia memiliki tingkatan-tingkatan tertentu bergantung pada upaya orang itu. Iman yang tidak terpelihara niscaya akan berkurang, mengecil atau hilang sama sekali. Untuk itu perlu diketahui sekaligus dipahami akan tingkatan-tingkatan aqidah yang selanjutnya akan dikemukakan dibawah ini:

  1. Taklid. yaitu tingkat keyakinan yang didasarkan atas pendapat orang yang  diikutinya tanpa dipikirkan.
  2. Yakin, yaitu tingkat keyakinan yang didasarkan atas bukti dan dalil yang jelas, tetapi belum menemukan hubungan yang kuat antara objek keyakinan dengan dalil yang diperolehnya. Dalam hal ini misalnya ada orang yang meyakini segala sesuatu berdasarkan ilmu, bahwa di Mekah itu ada Ka’bah. Kita percaya, karena menurut teorinya begitu ilmunya begitu.  Apa pun yang terjadi pada Ka’bah kita percaya, karena belum tahu yang sebenarnya bagaimana.
  3. Ainul Yakin, yaitu tingkat keyakinan yang didasarkan alas dalil rasional, ilmiah dan mendalam, sehingga mampu membuktikan hubungan antara obyek keyakinan dengan dalil-dalil serta mampu memberikan argumentasi yang rasional terhadap sanggahan-sanggahan yang datang. Hal demikian ditunjukkan orang yakin karena telah melihat dengan mata kepala sendiri.  Orang yang telah pergi ke Mekah, bisa melihat sendiri Ka’bah. Keyakinannya akan berbeda dengan orang yang yakin berdasarkan teori atau ilmu. Orang yang mengatakan Ka’bah itu ujungnya bulat, kalau hanya dengan ilmu bisa jadi kita percaya. Tapi bagi orang yang telah melihatnya akan berkata sesuai dengan yang telah dia lihat.
  4. Hagqul Yakin, yaitu tingkat keyakinan yang disamping didasarkan atas dalil-dalil rasional, ilmiah, mendalam juga mampu membuktikan hubungan antara obyek keyakinan dengan dalil-dalil serta mampu menemukan dan merasakan keyakinan tersebut melalui pengalaman.

G.    FUNGSI DAN PERANAN AQIDAH

Fungsi dan peranan aqidah dalam kehidupan umat manusia antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:

a.       Menuntun dan mengemban dasar ketuhanan yang dimiliki manusia sejak lahir. Manusia sejak lahir telah memiliki potensi keberagamaan (fitrah), sehingga sepanjang hidupnya membutuhkan agama dalam rangka mencari keyakinan terhadap Tuhan. Aqidah Islam berperan memenuhi kebutuhan fitrah manusia tersebut, menuntun dan mengarahkan manusia pada keyakinan yang benar tentang Tuhan, tidak menduga-duga atau mengira-ngira melainkan menunjukkan Tuhan yang sebenarnya.

b.      Memberikan ketenangan dan ketentraman jiwa.

Agama sebagai kebutuhan fitrah akan senantiasa menuntut dan mendorong manusia untuk terus mencarinya. Aqidah memberikan jawaban yang pasti sehingga kebutuhan ruhaninya dapat terpenuhi.

c.       Memberikan pedoman hidup yang pasti.

Keyakinan terhadap Tuhan memberikan arahan dan pedoman yang pasti sebab aqidah menunjukkan kebenaran keyakinan yang sesungguhnya. Aqidah memberikan pengetahuan asal dan tujuan hidup manusia sehingga kehidupan manusia akan lebih jelas dan lebih bermakna. Aqidah Islam sebagai keyakinan akan membentuk perilaku, bahkan mempengaruhi kehidupan seorang muslim. Abu A’la Al-Maududi menyebutkan pengaruh aqidah tauhid sebagai berikut:

(1)   Menjauhkan manusia dari pandangan yang sempit dan picik.

(2)   Menambahkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan tahu harga diri.

(3)   Membentuk manusia menjadi jujur dan adil.

(4)   Menghilangkan sifat murung dan putus asa dalam menghadapi selain persoalan dan situasi.

(5)   Membentuk pendirian yang teguh, kesabaran, ketabahan dan optimisme,

(6)   Menanamkan sifat ksatria, semangat dan berani, tidak gentar menghadapi resiko, bahkan tidak takut kepada mati.

(7)   Menciptakan sikap hidup damai dan ridha, dan

(8)   Membentuk manusia menjadi patuh, taat dan disiplin menjalankan peraturan Ilahi.


1 Al-Munawir, 1984, hal. 1023

2 Al-Banna, tt., hal. 465

3 Al-Jazairy, 1978, hal. 21

4 Q.s. An-Nahl, 16: 49-50

5 Q.s. Al-Infithar, 82: 10-12, Asy-syu’ara, 26: 192-194, As-Sajdah, 23: 11, Fushshilat, 41: 30

6 Q.s. Al-Anbiya 21: 26-27

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: