ETIKA MASYARAKAT SAMIN (SIKEP)

ETIKA MASYARAKAT SAMIN (SIKEP)

 

Di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, hiduplah komunitas masyarakat Samin atau sering di sebut sedulur Sikep. Lebih dari 200 kepala keluarga komunitas Sikep mendiami wilayah ini.Mereka adalah pengikut Samin Surosentiko alias Raden Kohar (1859-1914), pencetus gerakan sosial melawan Belanda.dengan cara menentang segala aturan dan kewajiban yang dibuat pemerintah kolonial kala itu,di antaranya menolak membayar pajak.

Dan perlawanan itu di munculkan dalam masyarakat tersebut dalam bentuk yang khas dan menjadi ciri khas tersendiri dari masyarakat tersebut misalnya tidak bersekolah, tidak memakai peci, tetapi memakai ikat kepala ( mirip orang Jawa zaman dahulu), tak memakai celana panjang (tetapi memakai celana selutut), tidak berpoligami, tidak berdagang, dan menolak kapitalisme.

Hingga sekarang ciri khas tersebut masih di munculkan dalam masyarakat tersebut dan menjadi sebuah keunikan tersendiri, karena

mayarakat Samin sangat menghargai tradisi leluhurnya. Mereka mematuhi semua peraturan seperti apa yang diajarkan oleh leluhur mereka. Tak satupun dari mereka berani melanggarnya.Karena nilai–nilai yang ada dalam masyarakat tersebut telah tertanam dalam hati mereka,dan menjadi sebuah norma tersendiri dalam masyarakat tersebut.

Ajaran masyarakat Samin memiliki nilai–nilai luhur yang dapat di jadikan suri tauladan bagi masysrakat-masyarakat lainnya. Nilai–nilai itu tersimpan dalam lima prinsip (adeg – adeg ) yang di tanamkan sejak kecil yakni : 1) Jangan memiliki perasaan drengki srei yang berarti tidak boleh memiliki rasa dengki, iri, 2) Dakwen panasten yaitu tidak boleh memiliki rasa curiga terhadap sesama 3) Bedhog colong artinya tidak boleh mencuri 4) Methil jumput yaitu mengambil sesuatu yang bukan haknya, dan 5) Nemu berarti tidak boleh mengambil barang orang lain yang terjatuh karena itu bukan miliknya,dan justru berkewajiban mengembalikan kepada pemiliknya, ataupun memberi tahu di mana keberadaan barang tersebut apabila telah di ketahui orang yang kehilangan barang tersebut.

Implementasi dari ajaran itu nampak pada paristiwa salah seorang kalangan kaum Samin yang menemukan sebuah kalung emas,namun dia tidak mengambilnya,dan kalung itu di tutupi dengan batu agar tak ada orang lain yang bukan pemiliknya mengambil kalung tersebut,kemudian dia mencari siapa pemilik kalung tersebut dan memberi tahu di mana keberadaan kalung tersebut. Dari sinilah tercermin nilai sosial yang tinggi serta kejujuran yang amat besar.

Pengamalan dari kelima prinsip tersebut membuat suasan masysrakat Samin aman tenteram dan damai.Mereka tak pernah khawatir dengan harta benda mereka yang di tinggalkan begitu saja di rumah dengan keadaan pintu yang tidak terkunci, dan barang-barang dari tamu mareka yang tertinggal di tempatnya tidak akan hilang karena mereka akan menyimpan barang tersebut dan mengembalikannya ketika tamu tersebut datang kembali.

Seseorang di katakana telah keluar dari komunitas ( sedulur ) Sikep apabila ia melanggar aturan kaum Sikep seperti memutuskan untuk bersekolah, berdagang, melepas ikat kepala, memakai celana panjang serta melanggar kelima prinsip (adeg–adeg) tersebut.

Di sadari ataupun tidak, ajaran masyarakat Sikep mengandung beberapa norma yang terpancar dari tingkah laku masysrakat Sikep itu sendiri antara lain:

Ø    Norma Adat

Kehidupan masyarakat Samin sangat kental dengan tradisi adat seperti yang telah di ajarkan oleh leluhur mereka. Dan ajaran yang di terapkan dalam masyarakat tersebut (yang terdapat dalam kelima prinsip) di nilai telah cukup sebagai pedoman dan pengatur kehidupan mereka.

Ø    Norma Hukum

Meskipun tidak ada hukum yang pasti sebagai pengatur masyarakat Samin seperti hukum yang telah kita kenal sekarang yang dapat kita jumpai dalam kitab undang–undang hukum, tetapi sesungguhnya aturan hukum itu tersirat dalam kelima prinsip masyarakat tersebut. Dan apabila prinsip–prinsip itu di laksanakan dengan baik,itulah norma hukum yang sesungguhnya.

Ø    Norma Kesusilaan

Norma Kesusilaan dalam masyarakat Samin tercermin dari prisip mereka misalnya dalam hal perkawinan mereka mengenal prinsip “siji kanggo salawase”(satu untuk selamanya) serta kelima prinsip tersebut yang secara tidak langsung menyimpan norma kesusilaan.

Masyarakat Sikep memiliki rasa cinta terhadap tanah air hal ini tercermin dalam pilihan pekerjaan. Mereka lebih memilih bekerja di sawah sebagai petani dari pada harus bekerja di pabrik – pabrik sebagai buruh, karena ketika mereka bekerja di pabrik –pabrik hanya sebagai seorang buruh maka sama saja dengan menjadi pembantu di negeri sendiri. Meskipun mereka sadar sepenuhnya bahwa hasil dari bertani tidak seberapa, bila dibandingkan dengan bekerja di pabrik. Karena mereka mempunyai prinsip “biarpun tidak kaya harta yang penting kaya ilmu” (pandai bersyukur).

Meskipun masyarakat Sikep tidak ada yang mengenyam dunia pendidikan (bersekolah) karena peraturan adat yang membatasi mereka, serta mereka mempunyai prinsip bahwa belajar dari kenyataan dan kehidupan adalah sekolah yang sebenarnya, tetapi dalam hal ideologi mereka tak kalah dengan para politikus maupun para cendekiawan. Mereka mengetahui perkembangan zaman dan kritis terhadap keadaan pemerintahan, serta memberikan gambaran tentang sebuah pemerintahan yang baik. Masyarakat Samin menilai para pejabat pemerintah zaman sekarang lebih mementingkan hak individu dari pada hak warga negaranya dan tidak melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai penyelenggara pemerintah yang seharusnya bertindak sebagai pelayan bagi warga negaranya tetapi dalam kenyataannya hal itu yang sebaliknya. Bahkan pemerintah itu sendiri bertindak sewenwng-wenang terhadap warga negaranya. Masyarakat Samin menilai bahwa pemerintahan yang di terapkan Belanda di Indonesia pada zaman dahulu lebih domokratis bila di bandingkan dengan pemerintahan Indonesia sekarang ini.

Masyarakat Samin adalah masyarakat yang masih memegang teguh aturan para leluhur mereka, karena aturan (pinsip) itu telah terinternalized atau telah mendarah daging dalam masyarakat tersebut.Hal itu berakibat terpatuhinya peraturan dan tak ada seorangpun yang berani melanggarnya,sehingga terciptalah keteraturan dalam masyarakat tersebut.

Ciri-ciri yang menonjol dari masysrakat Samin adalah tidak bersekolah,memakai ikat kepela dari kain, memekai celana selutut, tidak berpoligami, tidak berdagang, melainkan bertani dan lain sebagainya.

Masyarakat Samin berpegang teguh pada lima prinsip (adeg-adeg) yaitu jangan memiliki perasaan drengki srei, panasten dakwen, kemeren, bedog colong,pethil jumput, dan nemu.

Masyarakat Samin menilai pemerintah tidak memiliki perasaan kemanusiaan sama sekali, bahkan mereka berani merampas apa yang menjadi hak warga negaranya. Serta menilai hkum yang di buat hanya berlaku untuk warga negaranya,sementara hukum itu tidak berlaku bagi pemerintah sebagai pembuat peraturan tersebut, sehingga mereka bebas melanggarnya.

Dari aturan yang ada dalam masyarakat Samin kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hukum yang tidak tertulis sekalipun dapat berfungsi maksimal apabila para warganya  menyadari keberadaan hukum tersebut serta mau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: